Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 21 Mei 2013


Biarkan matamu terpejam.. dan dengarkan aku.
Aku ingin merekam nada yang selalu ingin ku nyanyikan, namun suaraku tak pernah terlalu indah untuk melantunkannya.

Biarkan matamu terpejam, dan dengarkan aku.
Dengarkan suara” yang mulai datang padamu, hatimu, pikiranmu. Dengarkan lirihku, nafasku, hatiku.. meski dia seolah tedengar semu.

Aku ingin tetap mencintaimu, dalam panas ataupun hujan.
Meski dinginnya telah ikut memelukku dan membuatku gemetar.  ketika hanya ada kau dan aku di bawahnya.
Aku ingin tetap memelukmu, dalam panas ataupun hujan.
Dan kau menggenggam tanganku erat, menciumnya, mengusir dingin dengan khawatir.
Aku ingin tetap bersamamu dalam panas ataupun hujan.

Kadang, aku ingin menjadi pelukis. Yang dapat melukiskan semua tentangmu, juga tentang kita. Membiarkan kuas menari di atas kanvas, dan aku bisa memajangnya suatu saat nanti.

Atau, aku menjadi seorang penulis. Yang mengisahkan beribu  cerita, atau sajak. Semuanya hanya tentang kita. Dan aku bisa membacanya. Membiarkan mereka akan tetap ada.

Cinta pertama...


Cinta pertama...
Cinta yang pertama kali membuat jantungmu berdetak, meski hanya dengan satu kalimat sapa.
Cinta yang pertama kali membuatmu tersenyum setiap malam, membiarkan matamu terpejam, kemudian mengingat semua tentangnya.
Cinta yang membuatmu merasa senang, setiap kali dia melihatmu, tersenyum padamu, meski kemudian dia berlalu.
Cinta yang membuatmu tak tenang, dan dia mendominasi pikiranmu.
Cinta yang tak pernah kau sadari keberadaanya, hingga dia menghilang dari penglihatanmu.
Cinta yang membuatmu rela menunggu, meski dalam penantian yang tak pernah kau ketahui.
Cinta yang selalu ingin kau sapa, meski dalam nada yang tak pernah kau nyanyikan.
Cinta yang akan selalu kau kenang, dalam ingatan, dan ruang khusus yang tetap kau sediakan.
Cinta yang tetap membuatmu tersenyum, meski dia tak pernah bisa bersamamu.
Yaa.. cinta pertama.. 

Senin, 26 November 2012

Load Earlier Message...

Satu persatu.. kembali aku buka jendela masa lalu. Tapi itu bukan masa lalu.. entah apa namanya.
Kata demi kata yang terucap meski terbata-bata, dengan jarak yang kemudian menjadi dekat. Dalam setiap rasa yang mulai tumbuh dalam asa. Dalam masa.

Membacanya, sama dengan aku melihat dan mengingat kembali. Ketika aku marah padamu, dan kau meredamnya. Membuat semuanya kembali tenang. Mengembalikan senyumku, merayuku.

Sejak kapan aku menyukai rayuan?

Ketika kita sama-sama tersenyum bahagia, melihatku mulai bercerita. Sementara kau, hanya selalu ingin menjadi pendengar. Keluhanku, manjaku, atau -yang paling kau suka-tertawa-ku. Atau mungkin, diamku.

Sejak kapan aku menjadi diam?

Ketika mendadak kita berubah seperti para remaja yang baru jatuh cinta. Sajak, puisi, kata indah. atau kalimat cinta. Dan di dunia nyata, kita sama-sama tersenyum. Dalam jarak yang kemudian semakin dekat.

Minggu, 02 September 2012

Permata hatiku, tentangku..

Kembali aku memulai tulisan dengan pikiran yang sebenarnya buntu. Ya, entah kenapa beberapa hari ini pikiranku selalu buntu. Aku tak dapat menulis apapun. Kata-kata itu tak dapat ku rangkai lagi.

Aku seperti sedang berada tepat diujung jalan yang asing. Aku tak mengenalinya. Sangat asing, entah dimana. Seperti pikiranku yang baru saja menjadi dua puluh tahun.

Seharusnya, saat ini aku menjadi kian bijak dalam menjalani hidup. Dulu, aku iri pada dua puluh tahun. Ketika usia seseorang dianggap menjadi dewasa. Entah dalam hal apa aku pun tak tau. Apakah dewasa dalam berpikir dan bertindak. Atau menjadi semena-mena merasa diri telah menjadi dewasa. Atau, diperbolehkan mendengar, membaca, dan melihat cerita-cerita dewasa. Ah, sebenarnya memang tak ada ukuran usia seseorang untuk dikatakan dewasa.

Namaku Lutfia, lebih lengkapnya Lutfia Ainun Nufus. Aku sangat bangga pada nama itu. nama yang pertama kali diberikan seorang laki-laki dan kupanggil Bapak. Nama yang mungkin hanya satu-satunya. Nama yang memiliki arti indah, seindah do’a yang terdapat didalamnya. Bersama ribuan harapan dan keinginan kedua orang tuaku. Lutfia, berasal dari salah satu nama Allah dalam asmaul husna Luthfi yang berarti penyayang. Namun bisa juga berarti halus, seperti pada kitab Riyadus sholihin. Ainun, yang berarti mata. Dan Nufus, yang berarti jiwa, nafas, hati, diri. Aku sering menerka-nerka do’a yang dipanjatkan oleh kedua orang tuaku melalui nama itu. mungkin, mata hati yang penyayang. Atau mata hati yang halus, halus mata hati. Ah, indah sekali.

Mungkin kalian akan selalu bertanya, mengapa aku memakai nama naluri pada setiap akun jejaring sosial yang ku punya. Bukan berarti aku tak ingin menggunakan nama asliku yang indah. Namun karna aku

Jumat, 31 Agustus 2012

Aku mencintai cinta yang sederhana
karna dalam kesederhanaan
Semuanya terasa lebih indah
Lebih menenangkan, mendamaikan

Aku mencintaimu dalam marahku,
Dalam hal kecil yang ku jadikan besar
Aku mencintaimu dalam diam,
Dalam Do’a yang kupanjatkan diam-diam
Dalam air mataku yang menetes tanpa sadar

Darimana aku belajar mencintaimu?
Sejak kapan aku mulai puitis mengisahkan rasaku?
Apakah karna semuanya berjalan dengan sederhana?
Apakah rasa ini sesaat kemudian menjadikan sesat?
Seperti yang selalu kita takutkan.

Entahlah,
Aku hanya merasa sedang belajar,
Belajar menjadi hati yang penuh dengan kepasrahan
Belajar untuk menjadi jiwa yang tetap terutuhkan
Dan aku, belajar mencintaimu dalam ketulusan.
Apa yang membuatku selalu menyayangimu?

Tuhan, apakah ini adalah sebuah keegoisan?
Ketika aku menginginkan dia dalam hidupku kelak.
Apakah ini hanya emosi sesaat?
Yang kemudian akan membawaku pada kesesatan.

Aku tak ingin menjadi hambamu yang egois
memaksakan apa yang aku kehendaki
aku bukanlah Tuhan.

Tapi, bukankah Engkau maha mengabulkan semua do’a?
Aku menemukan replika surga dalam pancaran matanya, mata yang dengan lembut memandangku. Perlahan dia mulai tersenyum, sambil tetap berusaha mempertahankan tatapan itu. dan waktu, seolah berhenti. Memberikan kesempatan kepada kami untuk saling menatap.
Sejujurnya, aku tak mampu melihat mata itu. ada keraguan yang menjalar dalam hatiku. Aku takut, ini hanya sesaat.
Tuhan, lindungilah hatiku dari cinta yang menyesatkan. Dari cinta sesaat yang palsu. Dari emosi jiwa yang akupun tak tahu berasal dari mana.
Kemudian kami tersadar, ada banyak hal yang harus kami pahami sebelum tatapan itu. suatu saat nanti, saat Allah menghendaki sebuah kebersamaan.
Akan ada banyak waktu yang bisa kita habiskan bersama tanpa perlu khawatir. Akan ada lebih banyak waktu untuk kami saling memikirkan.
Dan kami, harus berpisah saat tatapan itu mulai mendekat, melekat. Terima kasih tuhan, telah membawakan replika surga padaku. Padanya, aku menemukan kedamaian.