Kata demi kata yang terucap meski
terbata-bata, dengan jarak yang kemudian menjadi dekat. Dalam setiap rasa yang
mulai tumbuh dalam asa. Dalam masa.
Membacanya, sama dengan aku melihat dan
mengingat kembali. Ketika aku marah padamu, dan kau meredamnya. Membuat
semuanya kembali tenang. Mengembalikan senyumku, merayuku.
Sejak kapan aku menyukai rayuan?
Ketika kita sama-sama tersenyum bahagia,
melihatku mulai bercerita. Sementara kau, hanya selalu ingin menjadi pendengar.
Keluhanku, manjaku, atau -yang paling kau suka-tertawa-ku. Atau mungkin,
diamku.
Sejak kapan aku menjadi diam?
Ketika mendadak kita berubah seperti para
remaja yang baru jatuh cinta. Sajak, puisi, kata indah. atau kalimat cinta. Dan
di dunia nyata, kita sama-sama tersenyum. Dalam jarak yang kemudian semakin
dekat.
