Kembali aku memulai tulisan dengan pikiran
yang sebenarnya buntu. Ya, entah kenapa beberapa hari ini pikiranku selalu
buntu. Aku tak dapat menulis apapun. Kata-kata itu tak dapat ku rangkai lagi.
Aku seperti sedang berada tepat diujung
jalan yang asing. Aku tak mengenalinya. Sangat asing, entah dimana. Seperti
pikiranku yang baru saja menjadi dua puluh tahun.
Seharusnya, saat ini aku menjadi kian bijak
dalam menjalani hidup. Dulu, aku iri pada dua puluh tahun. Ketika usia
seseorang dianggap menjadi dewasa. Entah dalam hal apa aku pun tak tau. Apakah
dewasa dalam berpikir dan bertindak. Atau menjadi semena-mena merasa diri telah
menjadi dewasa. Atau, diperbolehkan mendengar, membaca, dan melihat
cerita-cerita dewasa. Ah, sebenarnya memang tak ada ukuran usia seseorang untuk
dikatakan dewasa.
Namaku Lutfia, lebih lengkapnya Lutfia
Ainun Nufus. Aku sangat bangga pada nama itu. nama yang pertama kali diberikan
seorang laki-laki dan kupanggil Bapak. Nama yang mungkin hanya satu-satunya.
Nama yang memiliki arti indah, seindah do’a yang terdapat didalamnya. Bersama
ribuan harapan dan keinginan kedua orang tuaku. Lutfia, berasal dari salah satu
nama Allah dalam asmaul husna Luthfi yang
berarti penyayang. Namun bisa juga berarti halus, seperti pada kitab Riyadus sholihin.
Ainun, yang berarti mata. Dan Nufus, yang berarti jiwa, nafas, hati, diri. Aku
sering menerka-nerka do’a yang dipanjatkan oleh kedua orang tuaku melalui nama
itu. mungkin, mata hati yang penyayang. Atau mata hati yang halus, halus mata
hati. Ah, indah sekali.
Mungkin kalian akan selalu bertanya,
mengapa aku memakai nama naluri pada setiap akun jejaring sosial yang ku punya.
Bukan berarti aku tak ingin menggunakan nama asliku yang indah. Namun karna aku
