Wahai kamu, jiwa yang sederhana. Aku selalu ingat,
pertama kali aku bertemu denganmu. Sederhana. Hanya sesederhana senyum dan
pandang mata, tak ada yang berbeda. Sekedar saling menyapa, kemudian berlalu.
Wahai kamu, jiwa yang diam. Yang secara diam-diam menarik
hatiku, perlahan. Masih dengan caramu yang sederhana. Namun bertemu kembali
denganmu, telah membuatku bahagia.
Wahai kamu, jiwa yang pemalu. Ketika dengan sengaja aku menyapamu,
bercanda dan mencari-cari alasan untuk mendapat perhatianmu. Entah kau
menyadarinya atau tidak, aku hanya ingin sedikit ada dalam ingatanmu saat itu.
Dan entah berhasil atau tidak, namun aku senang untuk dapat bercengkrama
denganmu.
Wahai kamu, jiwa yang misterius. Yang terus menjalar
secara perlahan dihatiku. Untuk waktu yang tidak cepat. Ah, tetap dengan caramu
yang begitu sederhana. Yang menghilang, namun kembali datang. Yang pergi, namun
kembali hadir. Namun kau tetap misterius, hingga dengan sendirinya kau terus
memiliki tempat dihatiku. Sedikit atau banyak, disitu kau ada.
Wahai kamu, jiwa yang sabar. Yang terus meredam marah
atau kesalku. Sedih atau tangisku. Semuanya tetap dengan caramu yang sederhana.
Meski dalam jarak, namun semua telah menjadi semakin dekat.
Wahai kamu, jiwa yang tulus. Pada setiap senyum, atau
semua hal yang kau berikan padaku. Dan dalam setiap kebaikanmu. Membuat rasaku
perlahan terus hadir. Aku yang hanya mengagumimu, kini aku mulai menyayangimu.
Wahai kamu, jiwa yang penuh cinta. Terima kasih untuk
telah mencintaiku dengan caramu yang sederhana, meski dalam diammu, meski kau
utarakan dengan malu-malu, namun secara misterius menjalarkan rasa di hatiku.
Dengan sabar kau pelihara, meredam ribuan ego dan kekuatanmu. Dalam jutaan
ketulusan, kau menggenggam tanganku. Mengajaku berjalan, beriringan. Menapaki
hari, bersama.
Wahai kamu, yang sekarang telah menjadi salah satu bagian
dalam hidupku. Entah kata apalagi yang ingin kuutarakan. Terlalu banyak, namun
tak terlalu merdu untuk bisa kuucapkan.
Wahai kamu, jiwa yang semakin kuat. Seiring dengan
ratusan hari yang telah menjadi proses perjalanan hidupmu. Aku bangga, bisa
selalu berada didalamnya. Menjadi penyemangatmu, atau yang bisa selalu
menguatkanmu. Terima kasih untuk telah memilihku.
Wahai kamu, semoga kamu terus menjadi jiwa yang kurindu.
Tetaplah bersabar dan menunggu. Pada waktu dimana hanya ada aku dan kamu.
Bersama-sama, dan tak ada rasa khawatir.
Semoga ini bukan kata terakhirku.


0 komentar:
Posting Komentar