Kata demi kata yang terucap meski
terbata-bata, dengan jarak yang kemudian menjadi dekat. Dalam setiap rasa yang
mulai tumbuh dalam asa. Dalam masa.
Membacanya, sama dengan aku melihat dan
mengingat kembali. Ketika aku marah padamu, dan kau meredamnya. Membuat
semuanya kembali tenang. Mengembalikan senyumku, merayuku.
Sejak kapan aku menyukai rayuan?
Ketika kita sama-sama tersenyum bahagia,
melihatku mulai bercerita. Sementara kau, hanya selalu ingin menjadi pendengar.
Keluhanku, manjaku, atau -yang paling kau suka-tertawa-ku. Atau mungkin,
diamku.
Sejak kapan aku menjadi diam?
Ketika mendadak kita berubah seperti para
remaja yang baru jatuh cinta. Sajak, puisi, kata indah. atau kalimat cinta. Dan
di dunia nyata, kita sama-sama tersenyum. Dalam jarak yang kemudian semakin
dekat.
Sejak kapan aku menjadi berlebihan?
Ketika kita mulai membicarakan masa depan.
Pernikahan, dan kita mulai meributkan soal anak pertama. Lucu ya? Atau
meributkan tentang siapa yang akan mencuci baju nantinya. Hihi. Aku mulai
tertawa sendiri.
Sejak kapan aku menjadi setengah gila
dengan tertawa sendiri?
Ketika kata demi kata terkontaminasi dengan
nafsu yang mulai tak terkendali. Disana, kau mulai menciumku. Sebelum aku
tidur, dan ketika kau bangun untuk tahajud, atau ketika aku bangun, atau
apapun. Memelukku. Ah, semoga ini hanya ungkapan sayangmu.
Sejak kapan?
Ketika kita mulai sama-sama mengingatkan.
Untuk menjadi hamba yang lebih taat. Kau mulai menuntunku untuk selalu bersujud
di malam hari, meng-awalkan sholat fardu-ku. Untuk mulai memohon tidak hanya
dalam do’a, tapi juga dalam dhuha. Untuk mengajakku melantunkan firman-Nya,
menelusuri setiap isinya. Untuk menahan lapar dan nafsuku dalam puasa.
Sejak kapan? Tak bisa ku gambarkan kembali.
Semuanya telah mengalir. Dan aku mulai senang. Untuk kembali membacanya,
mengingatnya, kemudian menuliskanya.
Untuk waktu yang berbatas. Aku ingin
semuanya tetap ada. Meski Diam.

0 komentar:
Posting Komentar