Aku heran mengapa di dunia ini begitu
banyak orang yang terlalu terobsesi untuk hidup senang, padahal sejak kapan
senang itu ada... bukankah setelah adanya kesusahan..??
Terkadang, menutup mata raga itu jauh lebih
baik dan membiarkan mata hati terbuka lebar-lebar agar kita tahu seberapa besar
nikmat yang telah diberikan.
Fokus pada satu titik memang tidak buruk,
tapi jika tidak pernah melihat titik-titik lain yang berada disekitarnya akan
menjadi sebuah kesalahan. Bukankah kita telah menjadi kufur nikmat dengan tidak
mensyukuri nikmat-nikmat lain yang sudah mengelilingi kita.
Ada satu cerita tentang seseorang yang
merasa apa yang dilakukanya adalah sebuah kebenaran, tidak ada yang mengerti
bahkan tidak ada yang dapat merasakan apa yang sedang dirasakanya.
Memang memberikan beribu pembenaran itu
sangat mudah, padahal jelas kebenaran itu hanya satu jika sesuai dengan
syari’at-Nya
itulah kebenaran.
Setiap jalan yang kita tempuh pasti
memiliki resiko, dan jangan pernah bilang kalau kita tidak pernah mempunyai
pilihan. Pilihan itu selalu ada, baik atau buruk.
Aku teringat akan pepatah jawa ‘nandur
pari-tukul pari-ngunduh pari’
Jika kita memilih sesuatu yang baik,
memulai sesuatu dengan kebaikan, selalu akan tumbuh kebaikan, dan akan pula
menghasilkan kebaikan. Begitupun sebaliknya, ketika kita memulai semua dengan
sebuah ketidak baikan, jangan pernah berharap bahwa semuanya akan menjadi baik.
Sekarang aku mengerti, mengapa Allah tidk
pernah memberikan hasil dalam suatu kehidupan. Proses, dan akan tetap menjadi
proses. Agar aku senantiasa belajar dari proses, dan tumbuh dalam proses.
Jangan pernah menyesali hidupmu, menyesali
sesuatu yang seharusnya kamu syukuri.
Percayalah, Allah itu selalu memberikan
yang terbaik di waktu yang terbaik dan dengan jalan yang terbaik. Kuncinya,
adalah selalu berbuat baik.

0 komentar:
Posting Komentar