Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 29 November 2013

Untukmu, Jiwaku..

Wahai kamu, jiwa yang sederhana. Aku selalu ingat, pertama kali aku bertemu denganmu. Sederhana. Hanya sesederhana senyum dan pandang mata, tak ada yang berbeda. Sekedar saling menyapa, kemudian berlalu.
Wahai kamu, jiwa yang diam. Yang secara diam-diam menarik hatiku, perlahan. Masih dengan caramu yang sederhana. Namun bertemu kembali denganmu, telah membuatku bahagia.

Wahai kamu, jiwa yang pemalu. Ketika dengan sengaja aku menyapamu, bercanda dan mencari-cari alasan untuk mendapat perhatianmu. Entah kau menyadarinya atau tidak, aku hanya ingin sedikit ada dalam ingatanmu saat itu. Dan entah berhasil atau tidak, namun aku senang untuk dapat bercengkrama denganmu.

Wahai kamu, jiwa yang misterius. Yang terus menjalar secara perlahan dihatiku. Untuk waktu yang tidak cepat. Ah, tetap dengan caramu yang begitu sederhana. Yang menghilang, namun kembali datang. Yang pergi, namun kembali hadir. Namun kau tetap misterius, hingga dengan sendirinya kau terus memiliki tempat dihatiku. Sedikit atau banyak, disitu kau ada.

Wahai kamu, jiwa yang sabar. Yang terus meredam marah atau kesalku. Sedih atau tangisku. Semuanya tetap dengan caramu yang sederhana. Meski dalam jarak, namun semua telah menjadi semakin dekat.

Wahai kamu, jiwa yang tulus. Pada setiap senyum, atau semua hal yang kau berikan padaku. Dan dalam setiap kebaikanmu. Membuat rasaku perlahan terus hadir. Aku yang hanya mengagumimu, kini aku mulai menyayangimu.

Wahai kamu, jiwa yang penuh cinta. Terima kasih untuk telah mencintaiku dengan caramu yang sederhana, meski dalam diammu, meski kau utarakan dengan malu-malu, namun secara misterius menjalarkan rasa di hatiku. Dengan sabar kau pelihara, meredam ribuan ego dan kekuatanmu. Dalam jutaan ketulusan, kau menggenggam tanganku. Mengajaku berjalan, beriringan. Menapaki hari, bersama.

Wahai kamu, yang sekarang telah menjadi salah satu bagian dalam hidupku. Entah kata apalagi yang ingin kuutarakan. Terlalu banyak, namun tak terlalu merdu untuk bisa kuucapkan.

Wahai kamu, jiwa yang semakin kuat. Seiring dengan ratusan hari yang telah menjadi proses perjalanan hidupmu. Aku bangga, bisa selalu berada didalamnya. Menjadi penyemangatmu, atau yang bisa selalu menguatkanmu. Terima kasih untuk telah memilihku.

Wahai kamu, semoga kamu terus menjadi jiwa yang kurindu. Tetaplah bersabar dan menunggu. Pada waktu dimana hanya ada aku dan kamu. Bersama-sama, dan tak ada rasa khawatir.

Semoga ini bukan kata terakhirku.

Minggu, 22 September 2013

Tenanglah.. Sejauh apapun aku berlari, akan selalu ada kamu.. Mengikutiku.. Menggenggamku, memeluk asaku, meski kita telah sama" lelah.. :)

Selasa, 21 Mei 2013


Biarkan matamu terpejam.. dan dengarkan aku.
Aku ingin merekam nada yang selalu ingin ku nyanyikan, namun suaraku tak pernah terlalu indah untuk melantunkannya.

Biarkan matamu terpejam, dan dengarkan aku.
Dengarkan suara” yang mulai datang padamu, hatimu, pikiranmu. Dengarkan lirihku, nafasku, hatiku.. meski dia seolah tedengar semu.

Aku ingin tetap mencintaimu, dalam panas ataupun hujan.
Meski dinginnya telah ikut memelukku dan membuatku gemetar.  ketika hanya ada kau dan aku di bawahnya.
Aku ingin tetap memelukmu, dalam panas ataupun hujan.
Dan kau menggenggam tanganku erat, menciumnya, mengusir dingin dengan khawatir.
Aku ingin tetap bersamamu dalam panas ataupun hujan.

Kadang, aku ingin menjadi pelukis. Yang dapat melukiskan semua tentangmu, juga tentang kita. Membiarkan kuas menari di atas kanvas, dan aku bisa memajangnya suatu saat nanti.

Atau, aku menjadi seorang penulis. Yang mengisahkan beribu  cerita, atau sajak. Semuanya hanya tentang kita. Dan aku bisa membacanya. Membiarkan mereka akan tetap ada.

Cinta pertama...


Cinta pertama...
Cinta yang pertama kali membuat jantungmu berdetak, meski hanya dengan satu kalimat sapa.
Cinta yang pertama kali membuatmu tersenyum setiap malam, membiarkan matamu terpejam, kemudian mengingat semua tentangnya.
Cinta yang membuatmu merasa senang, setiap kali dia melihatmu, tersenyum padamu, meski kemudian dia berlalu.
Cinta yang membuatmu tak tenang, dan dia mendominasi pikiranmu.
Cinta yang tak pernah kau sadari keberadaanya, hingga dia menghilang dari penglihatanmu.
Cinta yang membuatmu rela menunggu, meski dalam penantian yang tak pernah kau ketahui.
Cinta yang selalu ingin kau sapa, meski dalam nada yang tak pernah kau nyanyikan.
Cinta yang akan selalu kau kenang, dalam ingatan, dan ruang khusus yang tetap kau sediakan.
Cinta yang tetap membuatmu tersenyum, meski dia tak pernah bisa bersamamu.
Yaa.. cinta pertama.. 

Senin, 26 November 2012

Load Earlier Message...

Satu persatu.. kembali aku buka jendela masa lalu. Tapi itu bukan masa lalu.. entah apa namanya.
Kata demi kata yang terucap meski terbata-bata, dengan jarak yang kemudian menjadi dekat. Dalam setiap rasa yang mulai tumbuh dalam asa. Dalam masa.

Membacanya, sama dengan aku melihat dan mengingat kembali. Ketika aku marah padamu, dan kau meredamnya. Membuat semuanya kembali tenang. Mengembalikan senyumku, merayuku.

Sejak kapan aku menyukai rayuan?

Ketika kita sama-sama tersenyum bahagia, melihatku mulai bercerita. Sementara kau, hanya selalu ingin menjadi pendengar. Keluhanku, manjaku, atau -yang paling kau suka-tertawa-ku. Atau mungkin, diamku.

Sejak kapan aku menjadi diam?

Ketika mendadak kita berubah seperti para remaja yang baru jatuh cinta. Sajak, puisi, kata indah. atau kalimat cinta. Dan di dunia nyata, kita sama-sama tersenyum. Dalam jarak yang kemudian semakin dekat.

Minggu, 02 September 2012

Permata hatiku, tentangku..

Kembali aku memulai tulisan dengan pikiran yang sebenarnya buntu. Ya, entah kenapa beberapa hari ini pikiranku selalu buntu. Aku tak dapat menulis apapun. Kata-kata itu tak dapat ku rangkai lagi.

Aku seperti sedang berada tepat diujung jalan yang asing. Aku tak mengenalinya. Sangat asing, entah dimana. Seperti pikiranku yang baru saja menjadi dua puluh tahun.

Seharusnya, saat ini aku menjadi kian bijak dalam menjalani hidup. Dulu, aku iri pada dua puluh tahun. Ketika usia seseorang dianggap menjadi dewasa. Entah dalam hal apa aku pun tak tau. Apakah dewasa dalam berpikir dan bertindak. Atau menjadi semena-mena merasa diri telah menjadi dewasa. Atau, diperbolehkan mendengar, membaca, dan melihat cerita-cerita dewasa. Ah, sebenarnya memang tak ada ukuran usia seseorang untuk dikatakan dewasa.

Namaku Lutfia, lebih lengkapnya Lutfia Ainun Nufus. Aku sangat bangga pada nama itu. nama yang pertama kali diberikan seorang laki-laki dan kupanggil Bapak. Nama yang mungkin hanya satu-satunya. Nama yang memiliki arti indah, seindah do’a yang terdapat didalamnya. Bersama ribuan harapan dan keinginan kedua orang tuaku. Lutfia, berasal dari salah satu nama Allah dalam asmaul husna Luthfi yang berarti penyayang. Namun bisa juga berarti halus, seperti pada kitab Riyadus sholihin. Ainun, yang berarti mata. Dan Nufus, yang berarti jiwa, nafas, hati, diri. Aku sering menerka-nerka do’a yang dipanjatkan oleh kedua orang tuaku melalui nama itu. mungkin, mata hati yang penyayang. Atau mata hati yang halus, halus mata hati. Ah, indah sekali.

Mungkin kalian akan selalu bertanya, mengapa aku memakai nama naluri pada setiap akun jejaring sosial yang ku punya. Bukan berarti aku tak ingin menggunakan nama asliku yang indah. Namun karna aku

Jumat, 31 Agustus 2012

Aku mencintai cinta yang sederhana
karna dalam kesederhanaan
Semuanya terasa lebih indah
Lebih menenangkan, mendamaikan

Aku mencintaimu dalam marahku,
Dalam hal kecil yang ku jadikan besar
Aku mencintaimu dalam diam,
Dalam Do’a yang kupanjatkan diam-diam
Dalam air mataku yang menetes tanpa sadar

Darimana aku belajar mencintaimu?
Sejak kapan aku mulai puitis mengisahkan rasaku?
Apakah karna semuanya berjalan dengan sederhana?
Apakah rasa ini sesaat kemudian menjadikan sesat?
Seperti yang selalu kita takutkan.

Entahlah,
Aku hanya merasa sedang belajar,
Belajar menjadi hati yang penuh dengan kepasrahan
Belajar untuk menjadi jiwa yang tetap terutuhkan
Dan aku, belajar mencintaimu dalam ketulusan.
Apa yang membuatku selalu menyayangimu?